space of revolution
Sewaktu SD guruku selalu berpesan hiduplah seperti Padi makin berisi makin merunduk, seperti hidup semakin kau memiliki ilmu tetaplah untuk rendah hati.
Wednesday, August 20, 2008
kriteria presiden versi saya
tsiapa presiden pilihan anda?????

boleh lah ya buat rame-rame...
di era yang sering di dengungkan sebagai era pembangunan dan kebangkitan bangsa, secara idealnya presiden itu "mau bersakit tahan bersempit, mau berteruk tahan terpuruk, mau bersusah tahan terlelah, mau bertungku lumus tahan tertumus (tersungkur) "
tak ada yang enak dari kriteria tersebut, tapi itulah yang harus dimiliki oleh para pemimpin, apalagi pemimpin no-1 di negara ini. klo presiden sudah memilki sifat seperti itu, insya Allah Indonesia akan dibawa menjadi negara yang adil dan sejahtera,
sebagai pemimpin yang mengemban perjuangan dan amanat nasional,
karena terpilih secara demokratis, sudah sepantas nyalah mereka berkarya dengan hati nuranirakyat.

tadi pagi saya bereaksi ketika melihat iklan disebuah televisi swasta. wah akhirnya iklan kampanye buat jadi orang no-1 sudah rame, setelah sebelumnya kita hanya disuguhi oleh iklannya Prabowo Subianto atas nama HKTI dibawah bendera Gerindra (haha mhn maaf sbelumnya kayaknya etisnya sebut merek ato inisial warna seperti yang sering mas akbar tulis ya??) kayaknya dua-duanya biar jelas .dan Sutrisno Bachir dengan slogan Hidup adalah perbuatan (terinspirasi dari puisi karya Chairul Anwar) walau akhirnya minggu ini kita melihat iklan SB versi baru Mari Berbuat Untuk rakyat .
setelah bercerai dengan konsultan iklannya (FOX asia milik Rizal Malaranggeng) kan, Rizal Malaranggeng juga mau jadi RI-1 Saatnya generasi Baru,Harapan baru, dengan kemasan yang tidak jauh berbeda saat FOX menggarap Iklannya pak SB, itulah politik belum jadi apa-apa udah merasa ga puas. mau maju sendiri aja deh .

moment 17 Agustus benar2 dimanfaatkan untuk pembangunan citra bagi orang2 besar (dan kaya) tersebut, setelah SB,PS,RM, muncul lagi iklan SBY bersama (tapi tidak dengan duetnya JK) kan pake embel-2 Demokrat, dengan menyitir kata2 bung Karno, trus ada lagi kemaren iklan 'Selamatkan Indonesia !" versinya mantan Ketua MPR dan juga dosen tetap HI UMY (tapi paling sering disbut dosen fisipol UGM) AMien Rais. dan tadi pagi sewaktu sedang menikmati sarapan di kantor muncullah Iklan tokoh yang pernah tersandung skandal non budgeter bulog. Bang Akbar Tandjung mantan aktivis 66 yang sempat menjadi manusia idealis semasa menjadi mahasiswa dulu .

dari banyak versi tersebut baru 3 tokoh yang scara terang-terangan masuk dalam peta menuju RI-1.SB,PS,dan RM, SBY sudah pasti di usung lagi dengan jualan sebagai incumbent yang berhasil mengurangi angka kemiskinan dan membuat Indonesia untuk pertama kalinya selepas reformasi mencapai swsembada beras .. AR, dan AT
masih malu dalam menggarap iklannya.

trus dimana para tokoh yang mendeklarasikan untuk menjadi RI-1 jauh-jauh hari yang lalu. Sutiyoso for President (saya sempat berkunjung ke markas Sutiyoso Center di Menteng dulunya tempat itu juga dijadikan sebagai tempat Fauzi Bowo center) bagaimana sibuknya mereka disana,hehe. belum ada iklannya yang muncul di televisi, kampanye pencitraannya baru pada pengadaan turnamen bulutangkis di Samarinda beberapa waktu yang lalu (Sutiyoso berhasil memboyong pemain pelatnas untuk melakukan eksibisi di sana dengan kapasitasnya sebagai ketua PBSI.

trus bu mega juga belum muncul, yang paling saya tunggu-tunggu adalah iklannya Gus Dur (dengar-dengar masih ngotot buat maju lagi). gimana ya kemasan iklannya nanti.

trus jga ada satu lagi ituloh calon dari kaum muda belum memunculkan nama. secara track record belum ada yang bisa menyaingi dari segi militansi dan bersih dari KKN (klo ad paling cuma oknum ). saya ingat waktu Mukernas di Makassar pak Tifatul Sembiring sang presidennya mengungkapkan bahwa memberikan kriteria umur 50 thn kebawah bagi yang akan maju jadi RI-1,
"Ada yang pernah gagal tapi kepingin lagi maju. No way. Silakan minggir. Pemimpin baru itu balita di bawah lima puluh tahun” akhirnya gara-gara statement tersebut Bu Mega jadi nyolot (kan umurnya udah ga 50 lagi) balik nantangin Pak Tifatul "Mana yang muda-muda? Sini! jangan hanya ditokoh-tokohkan. Kamu populer nggak di mata rakyat, kata Mega. “Kalau Pak Tifatul mau maju, maju! Jangan hanya berwacana,” ujarnnya lagi. ....wah-wah,emang sih ampe sekarang saya juga belum dengar siapa sosok muda yang akan diusung uleh kaummuda itu (padahal saya termasuk orang yang menunggu sapa ya? soalnya waktu pemiliu 99 dan 2004 kan ga jadi ngusung,dulu waktu masih dipimpin pak nur mahmudi,trus pak hidayat nur wahid,sekarang pak tifatul) masa masih sebatas wacana terus?? keputusan dewan syuronya gimana? atau harus dapat lebih dari 30% suara saja, baru mau kasih nama, kan kasihan (penasaran)bagi masyarakat yang menunggu siapa sih yang maju dari partai ini. hehehe. jangan2 kayak waktu cuma jadi 5 besar peraih suara terbanyak koalisi deh. akhirnya harus merelakan kita dipimpin oleh pemimpin yang belum bisa adil dan mensejahterakan rakyat dan negaranya.
ayo sekarang siapa lagi yang mau nyalon.

kriterianya jelas.

"mau bersakit tahan bersempit, mau berteruk tahan terpuruk, mau bersusah tahan terlelah, mau bertungku lumus tahan tertumus (tersungkur) "

mau tua, mau balita (bawah limapuluh tahun)
mau orang lama, orang baru.
pokoknya harus bisa seperti itu.
klo ga bisa, sebaiknya simpan baik-baik berkas pencalonan anda untuk jadi RI-1
diam aja dirumah, klo tidak siap maka bersiap-siaplah untuk bersempit, terpuruk,terlelah,dan tertumus.

begiru beratnya beban yang ditanggung jadi RI 1, jadi jangan main-main.
semoga Allah selalu memberikan pencerahan bagi tokoh-tokoh besar tersebut.amin

kita tungggu saja.
posted by Khairul Fuadi @ 8:00 PM   0 comments
Wednesday, May 21, 2008
ada yang baru
" biarlah orang itu memukul saya, asalkan ia mau menjadi teman saya"..
hmmm. itu salah satu ucapan dari seorang general marketing di sebuah resto dijogja, yang secara tidak sengaja saya berkenalan dengannya. sosok yang boleh sya lihat sebagai seorang yang "rame". tetapi memiliki sebuah filosofi yang cukup menggelitik hati saya. hidup itu akan indah kalau kita bisa menjaga silahturahmi.
..............


"apa beda adhiyaksa dault dengan amien rais?"

hehehe, buat lucu-lucuan (tapi bukan karena kecewa atas kedatangan adhiyaksa pada semnas yang diadakan beberapa bulan yang lalu). tapi ya,sekali boleh mengingat lagi klo melihat bedah buku Agenda mendesak bangsa, selamatkan Indonesia! hari ini dikampus.
timbul pertanyaan simpel dari seorang teman apa beda adhiyaksa dault dengan amien rais.???setelah melihat audience yang hadir ke ruang sidang membludak saat bedah bukunya pak Amien, berbeda dengan ketika adhiyaksa dault menjadi pembicara seminar ditempat yang sama tetapi audience yang hadir hanya 1/4 nya saja.miris memang.

apa yang membedakan?
salah satu teman menjawab:
1. ternyata sosok adhiyaksa dault jauh kalah pamor dibanding pak Amien (dikampus kami,he). bedah buku pak Amien hanya butuh sosialisasi 2 hari, tapi pesertanya lebih dari 250 orang melebihi kapasitas ruang sidang yang berkapasitas 200 seat. sosialisasi adhiyaksa satu minggu tapi yang hadir tak lebih dari 100.

2. sepertinya adhiyaksa dault harus nerbitin buku juga agar bisa famous kayak pak Amien,minimal bisa menjawab dengan tegas "apa lambang dari sila ke-2 Pancasila??" kan pada tgl 20 mei bpk ga menjawab pertanyaan reporter yang bertnya ke adhiyaksa dault.

3. mungkin statemen adhiyaksa belum 'sepedas' pak amien yang menyebut JK dengan Jusuf Kollo....

dan perbedaan yang lainnya.... hehe diskusi ala kantin

to be continued

Labels:

posted by Khairul Fuadi @ 2:38 AM   0 comments
Monday, December 03, 2007
ASEAN TAYO 2007 Awards for KOMAHI UMY








Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta(KOMAHI UMY)—yang mewakili Indonesia—mendapat penghargaan dalam ajang ASEAN TAYO 2007(Ten Accomplished Youth Organization) 10 Organisasi berprestasi yang digelar di Cebu city,Filipina, 28-30 November 2007 lalu. Penghargaan dianugrahkan di Cebu International Convention Center,Plenary Hall 30 November 2007.
ASEAN TAYO 2007 merupakan wahana pencarian 10 Organisasi remaja dan pemuda di ASEAN yang menorehkan prestasi terbaik dalam upaya pembangunan dan pembinaan pemuda. Serta merupakan penghargaan dan pengakuan untuk pemuda berprestasi dan organisasi yang melayani pemuda di negara-negara anggota ASEAN. ASEAN TAYO Award 2007diberikan kepada organisasi pemuda yang telah melakukan program yang berkelanjutan, serta karya dan aktivitas yang bisa menjadi contoh bagi organisasi yang lain. Sehinggga dapat membantu dalam usaha pencapaian 8 misi Milennium Development Goals PBB .

Acara ini diadakan oleh Committee for ASEAN Youth Corporation bekerja sama dengan National Youth Council Filipina. Adapun yang menjadi kriteria penilaian awards tersebut adalah organisasi harus mempunyai program-program yang dapat memberikan dampak bagi komunitas masyarakat, mampu memobilisasi sosial, program yang inovatif, serta program yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Program-program tersebut harus terfokus pada kriteria-kriteia seperti Konservasi lingkungan, apresiasi seni dan budaya Asia, Pendidikan, tenaga kerja, kesehatan reproduksi dan gaya hidup sehat, tenaga pemuda sukarela, pengembangan kesejahteraan sosial.

Dalam ajang penghargaan tersebut, KOMAHI UMY diwakili oleh Khairul Fuadi, didampingi oleh Pembantu Rektor 3 UMY Drs. Husni Amriyanto,Msi. Tetapi sayang ( KNPI) Komite Nasional Pemuda Indonesia dan pihak dari Kementrian Pemuda dan Olahraga Indonesia tidak dapat mendampingi delegasi Indonesia dalam penganugrahan awards tersebut. Selain KOMAHI UMY yang mewakili Indonesia dalam ajang prestasi tersebut, ada beberapa organisasi lainnya yang mewakili masing-masing negara ASEAN. Persatuan Melayu Keriam (PESAKA) dari Brunei Darussalam, Youth Association of Cambodia dari Kamboja, Lao Youth Union dari Laos, Kapansanan Akibat sa Kaunlaran ng Bayan (KAAKBAY) dari Filipina, SEMANGAL Usaha Maju Jaya Youth Association (SUMBER) of Felda Sumpang Wa Ha Kota Tinggi, Johor dari Malaysia. Serta Initiate dari Singapore. Serta ASTRO entertainment yang mendapatkan penghargaan khusus atas dedikasinya dalam usaha pendampingan sosial masyarakat dalam bidang teknologi informasi.




Menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi KOMAHI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan kebanggaan dapat menjadi wakil Indonesia meraih penghargaan sebagai Organisasi Pemuda terbaik ASEAN dalam ajang ASEAN TAYO awards 2007. sebagai sebuah organisasi mahasiswa ditingkatan jurusan, KOMAHI UMY telah mampu mengukir prestasi Internasional di tingkat ASEAN,
Selama di Cebu,Filipina delegasi dari Organisasi Kepemudaan dari tiap negara ASEAN tersebut mengikuti berbagai aktivitas yang berhubungan dengan Millenium Development Goals sesuai misi ASEAN TAYO 2007 yang mengadopsi dari program United Nations tidak terpengaruh atas peristiwa percobaan kudeta militer di Manila tetap melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan di Talamban GK Village Cebu dengan melakukan interaksi dengan penduduk bekerja sama dengan youth volunters Filipina dan pada malam harinya para delegasi tiap negara mendapat kehormatan dalam acara jamuan makan malam di rumah kediaman Gubernur Kota Cebu.


Masih dalam rangkaian acara tersebut, delegasi Indonesia yang diwakili oleh Khairul Fuadi juga mengikuti 12th CACY Management Meeting dan 16th National Secretaries Meeting bersama delegasi dari Negara anggota ASEAN di meeting room Rajah Park Hotel,Cebu city yang membahas tentang follow up dari pembentukan Cyber Development Corps (CDC) ASEAN, dan pertemuan untuk negara anggota CDC ASEAN yang akan diadakan di Kuala Lumpur,Malaysia pada pertengahan bulan Mei 2008. dan presentasi dari ASTRO tentang bagaimana ASTRO dapat bekerja sama dengan negara-negara lain di region ASEAN bagi anak-anak muda.

Labels:

posted by Khairul Fuadi @ 5:16 PM   0 comments
Saturday, October 27, 2007
Saatnya mencari benar dan salah
Oleh : Khairul Fuadi*
dimuat di harian rakyat Bengkulu
Sabtu, 20-Oktober-2007, 10:18:09

Jika Anda memancing di laut, maka jangan Anda hitung jumlah ikan di laut. Tetapi hitunglah berapa jumlah ikan yang telah Anda dapatkan. Jika jumlah ikan di laut dan luasnya samudera yang Anda hitung, maka sesungguhnya Anda sedang bermimpi.
-Duplik Kuasa Hukum KPU KOTA-

INILAH sebuah kalimat penutup dari kuasa hukum KPU Kota pada lanjutan sidang kasus gugatan Pilwakot beberapa waktu yang lalu. Sebuah kalimat filosofis yang tidak cukup pendek, namun cukup lugas tersusun. Memiliki makna yang begitu dalam. Tetapi dengan pemahaman yang berbeda-beda. Ini bergantung di posisi mana kita akan memberi tanggapan. Sebuah fenomena menarik jika selalu mengamati perkembangan kasus gugatan terhadap KPU Kota yang dilancarkan oleh pihak Chalik-Arifin Daud pascahasil Pilkada akhir-akhir ini. Seperti yang sama-sama diketahui, baru saja kita melewati sebuah hajatan politik Kota dengan menghasilkan pasangan baru pada Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) untuk pertama kalinya. Terlepas apakah semua proses dalam Pilkada itu dilakukan bersih atau tidak, apakah terjadi kecurangan atau tidak, dan apakah terjadi eksodus dan money politics atau tidak, biarlah proses hukum yang menyelesaikan. Tetapi jika semua masih belum mempercayai hukum sebagai sebuah media untuk menuntut kebenaran, tinggal hati nuranilah yang akan bermain. Dan mencari orang-orang yang berhati nurani akan menjadi sangat susah dicari pada saat semua telah menjadi Homo Homini Lupus, manusia satu bagai srigala yang siap menerkam bagi manusia yang lain. Begitu juga sebaliknya.
Menurut Anders Uhlin, dalam Oposisi Berserak Arus Deras Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia, Mizan, Bandung, 1998,h.13, demokrasi diartikan sebagai pemerintahan rakyat yang berlandaskan pada kontrol masyarakat dan kesetaraan politik. Kemudian, demokratisasi harus didefinisikan sebagai semakin meningkatnya penerapan pemerintah rakyat pada lembaga, masalah, dan rakyat yang sebelumnya tidak diatur menurut prinsip-prinsip demokrasi tersebut. Jadi, definisi demokrasi tidak terbatas pada wilayah politik sempit. Tetapi meliputi demokratisasi di semua aspek kehidupan bermasyarakat. Di zaman sekarang, dalam sebuah pemerintahan selalu diliputi oleh sebuah kondisi serba dalam angkara dan tidak pasti. Dimana orangnya akan hanya mempermainkan peran-peran individu mereka, dengan meninggalkan kebaikan bersama. Seandainya-pun itu ada, hanya dalam performance atau penampilan saja yang seolah semua adalah demokrasi. Padahal, sama sekali tidak! Atau hanya selalu berada dalam indikasi-indikasi atau simbol-simbol demokrasi, tetapi secara substansial nilai itu masih jauh menganga.
Menjadi oposisi bukanlah hal buruk dalam sebuah kancah politik. Menjadi legowo pun menjadi sikap yang akan selalu dihormati dalam arena politik. Pertimbangan baik dan buruk selalu menyesuaikan antara tindakan dan tujuan. Bagi seorang politisi misalnya, tindakan yang baik adalah yang bisa mendatangkan kekuasaan. Sedangkan tindakan yang buruk adalah yang bisa melucuti/ mengurangi kekuasaan. Pragmatisme jelas mengontrol etika ini. Dalam etika teleologis, mengampuni kejahatan kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh Suharto pada orde baru bisa dianggap baik karena dinilai dapat mengurangi potensi konflik yang bisa timbul jika para pendukung Suharto mengamuk. Etika deontologis bersikukuh untuk mendasarkan semua pertimbangannya pada kriteria benar atau salah. Etika ini justru mencoba menetapkan secara tegas batas antara benar dan salah itu. Jika melingkupi ruang lingkup sosial, garis batas itu ditetapkan lewat sensus. Moralitas hukum adalah contoh dari etika deontologis. Jika moralitas hukum didasarkan pada etika teleologis yang memakai kriteria baik-buruk, maka batas antara mana yang benar dan mana yang salah dalam hukum bisa menjadi kabur. Dan akhirnya hukum pun tak bisa memberi kepastian.
Dalam ruang lingkup individual, kriteria benar adalah tindakan yang sesuai dengan seruan hati nuraninya, yang menyelaraskan antara kata dan laku dengan membela kaum lemah, tanpa sedikitpun dikontrol oleh ketakutan-ketakutan, baik ketakutan yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Jika ingin menciptakan sebuah sistem yang bersinergis satu sama lain, maka haruslah ada pihak yang mengontrol semua itu. Ada pihak yang benar dan ada pihak yang salah. Bukan pihak yang baik atau buruk. Hanya sebuah pemerintahan yang dijalankan dengan benarlah yang akan membuktikannya. Bukan Baik atau Buruk Sekarang tinggal kita yang bisa menyikapi. Apakah akan memakai etika teleologis yang mempunyai kriteria baik-buruk atau memakai etika deontologis yang memakai kriteria benar-salah. Tetapi tetap nantinya untuk menjalankan sebuah pemerintahan kita harus bersandarkan pada benar-salah, bukan pada baik-buruk hasilnya.
Hasil Pilwakot beberapa waktu lalu harusnya dapat menjadi sebuah pembelajaran yang harus kita sikapi dengan arif dan bijak. Menjadi oposisi bukan utopia, menjadi pemimpin pun jangan lengah. Adalah tugas kita untuk terus mengamati dan memperhatikan, sesekali mengkritisi (bukan menghujat) kalau-kalau pemerintahan itu mencoba sesekali bertindak salah. Akhirnya sebuah kepemimpinan akan dinilai berhasil jika semua elemen dari tingkatan yang paling mendasar hingga tingkatan yang tertinggi menciptakan sebuah iklim politik yang kondusif untuk bersinergi dengan baik satu sama lain. Hanya satu yang harus kita coba tanamkan sekarang. Saatnya bukan(mencari) baik atau buruk, tapi benar atau salah.
* Penulis adalah mahasiswa FISIPOL Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Jogjakarta, Penggiat pada Prophetic Freedom Project Yogyakarta.

Labels:

posted by Khairul Fuadi @ 10:33 PM   0 comments
Sunday, July 22, 2007
Soft Power sebagai Sumber Kekuatan Psikologis



Lima abad yang lalu, Niccolo Machiavelli pernah mengatakan bahwa lebih baik dan lebih penting ditakuti daripada dicintai. Pada abad-abad awal, kekuatan internasional selalu dijustifikasi dengan kekuatan perang. Perkataan itu benar adanya apabila diwujudkan pada saat Machiavelli masih hidup, akan tetapi di abad kontemporer ini yang ditandai oleh era informasi global, perasaan ditakuti sama saja dan sama pentingnya dengan perasaan dicintai. Nye juga pernah mengatakan bahwa memenangi hati dan jiwa lebih penting di era sekarang. Menurutnya sebuah informasi adalah kekuasaan dan teknologi informasi yang moderen tersebar lebih luas daripada era-era sebelumnya.

Globalisasi telah membukakan mata bagi para politisi dunia bahwa saat ini sumber dan justifikasi kekuasaan bukan lagi ditekankan pada perang, akan tetapi pada sumber teknologi dan informasi. Oleh karena itu, sumber kekuasaan saat ini bukan lagi identik dengan Hard Power (HP) yang ditandai dengan militer dan perang, akan tetapi muncul istilah Soft Power (SP) yang ditandai dengan munculnya teknologi, informasi, budaya, nilai dan norma sebagai “media”nya.

SP adalah konsep yang saat ini banyak digunakan dalam terminologi kontemporer ilmu politik sebagai suatu pemikiran yang merujuk kepada budaya sebagai kekuatannya. Oleh karena itu SP memiliki definisi sebagai kemampuan dari sebuah badan politik (a political body) untuk mempengaruhi badan politik lainnya melalui penggunaan budaya dan ideologi.[1] Satu kunci determinan dari SP adalah ia memiliki kekuatan dimana badan politik dan atau negara lain dapat mengadopsi nilai, budaya dan ideologi baru tersebut. Dalam SP, penggunaan militer sangat dihindari karena SP menggunakan strategi mengkooptasi masyarakat secara damai melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.[2]

SP adalah usaha suatu negara untuk “menguasai” negara lain dengan cara mengatur agenda mereka sedemikian rupa melalui budaya dan nilai sehingga negara lain memujanya (admiring). Dalam lingkup yang lebih kecil, Nye mengatakan bahwa SP adalah kemampuan suatu negara untuk menegaskan pilihan-pilihan negara lain apakah mereka ikut atau tidak dalam budaya dan nilai yang disebarluaskannya. SP dapat dianggap sebagai kekuatan yang “diam-diam” karena ia biasanya mengendap dalam kognisi di setiap tingkat kehidupan. Nye juga mengatakan bahwa SP memiliki unsur psikologis seperti layaknya sepasang insan yang sedang memadu kasih, dimana terdapat unsur “kimia misterius” (mysterious chemistry) yang dapat menimbulkan kecocokan dan ketertarikan satu sama lain.[1] Sehingga dalam terminologi ilmu behavioral, SP disebut sebagai kekuatan yang menarik perhatian. (soft power is attractive power).[2] Contoh negara yang menggunakan SP dalam perilaku politiknya adalah Kanada, Belanda dan negara-negara Skandinavia. Mereka sangat jarang sekali menggunakan kekuatan militernya karena mereka sadar bahwa nilai-nilai ekonomi dan perdamaianlah yang bisa menjadi aset utama mereka dalam menguasai dunia.[3]

Pada dasarnya, HP dan SP memiliki hubungan yang sangat erat karena sama-sama memiliki aspek kemampuan untuk menguasai yang lain. Yang membedakan HP dan SP adalah perilaku dan sumber kekuasaannya. HP biasanya selalu dikaitkan dengan kekuatan perintah (command power) dan koersif atau memaksa, sementara SP dikaitkan dengan kekuatan kooptasi (co-optice power) yang juga bertujuan untuk menarik perhatian yang lain dengan menggunakan “media” budaya dan nilai.

Di dalam HP, spektrum perilaku kekuasaan labih ditekankan kepada perintah dan atau paksaan, sementara spektrum kekuasaan SP lebih lunak dengan mengatur agenda sedemikian rupa sehingga menarik perhatian yang lain. Untuk membuka perspektif kita mengenai SP, maka peneliti akan mencoba memberikan contoh-contoh peristiwa di belahan dunia yang menggunakan SP sebagai kekuatan andalannya.

SP pernah membuat negarawan senior Amerika Serikat John J. McCloy (penasehat kepresiden dan anggota Komisi Warren) sangat marah. Saat dia mengadakan pertemuan dengan Presiden John F. Kennedy, McCloy geram karena Kennedy memberikan perhatian yang lebih kepada masalah popularitas dalam perspektif penarikan perhatian. Pada saat itu, Kennedy yang memiliki pemikiran seperti Woodrow Wilson dan Franklin Roosevelt mengatakan bahwa perlu adanya opini dunia (world opinion) sebagai satu unsur kekuatan Amerika Serikat, akan tetapi McCloy sangat tidak setuju karena dia tidak percaya akan adanya opini dunia.[1]

Sementara Norwegia pernah ikut ambil bagian dari misi perdamaian dunia di Filipina, negara-negara Balkan, Kolombia, Guatemala, Sri Lanka, dan negara-negara Timur Tengah. Hal ini semata-mata dilakukan Norwegia selain untuk mengemban warisan misionaris Lutheran, tetapi juga untuk memprogandakan bahwa Norwegia adalah negara yang cinta damai.[2] Sedangkan Pemerintah Polandia berencana untuk mengirimkan pasukannya setelah perang Iraq bukan saja untuk menyaingi Amerika Serikat tetapi untuk memberikan image Polandia sebagai negara di wilayah Eropa Timur dalam kancah percaturan dunia.[3]

Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa apabila sebuah negara dapat menarik perhatiannya dengan budaya, nilai dan ideologi mereka, maka negara lain akan mengikutinya (if a country’s culture and ideology are attractive, others more willingly follow) dan apabila suatu negara dapat mempertajam peraturan-peraturan internasionalnya yang konsisten dengan kepentingan dan nilai mereka, maka aksi-aksi mereka akan terlihat legitimate di mata negara lain (if a country can shape international rules that are consistent with its interest and values, its actions will more likely appear legitimate in the eyes of others).[1]

Dalam sebuah konstelasi dunia yang telah dijustifikasi sebagai sebuah dunia yang berada dalam lingkungan era informasi global, SP memegang peranan penting di dalamnya. Negara-negara yang menggunakan SP sebagai kekuatannya terlihat semakin matang dan menunjukkan kredibilitasnya.[2] Negara-negara yang biasanya berhasil dalam penggunaan SP-nya adalah negara yang pertama, memiliki kebudayaan-kebudayaan dan ide-ide dominan yang mendekati bahkan sampai menjadi norma-norma global, kedua, negara yang memiliki akses ganda dalam berkomunikasi bahkan bisa memberikan pengaruh kepada negara lainnya, dan ketiga, negara yang memiliki kredibilitas untuk meningkatkan performa domestik dan internasionalnya.[3] Setelah Perang Dunia II dan Perang Dingin, penggunaan SP lebih gencar dan aktif dilakukan oleh negara-negara di dunia, seperti Amerika Serikat yang mendirikan the Voice of America, the Fulbright Program, American Libraries, United States Information Agency, dan lain-lain. Bahkan sebelum Perang Dingin, Amerika Serikat sudah mulai melakukan SP dengan “menjual” budaya dan nilai-nilai Amerika melalui filem-filem Hollywoodnya.

Keterbukaan budaya dan nilai inilah yang dirasakan pengaruhnya bagi negara lain. Bagi negara-negara Timur Tengah, nilai dan budaya yang disebarkan oleh Amerika Serikat membawa sedikit pengaruh. Sebelum adanya pengaruh tersebut, hampir semua tayangan-tayangan televisi di Timur Tengah harus seizin pemerintah setempat, sampai pada akhirnya negara Qatar mengizinkan stasiun televisi baru, Al-Jazeera, menayangkan tayangan-tayangan bebas seperti tayangan Osama bin Laden sampai masalah Tony Blair dalam perang Irak.[1] Menurut Joffe, seorang editor berkebangsaan Jerman, Amerika dianggap sebagai negara yang memiliki kebudayaan paling terbuka sehingga negara-negara lain bersedia untuk menerimanya.[2] Atau sebagaimana yang dikemukakan oleh para kritikus Perancis, bahwa di abad ke-20 ini tidak ada satu hal pun yang disimbolkan dengan kejayaan kebudayaan Amerika, seperti filem, musik, bahkan kebijakan, dan lain sebagainya. Pesan yang disampaikan oleh Amerika didasarkan kepada masalah keterbukaan terhadap masalah-masalah multikultural.[3] Seorang pengamat berkebangsaan Norwegia juga mengatakan bahwa saat ini kebudayaan Amerika sudah menjadi kebudayaan kedua bagi siapapun.[4]

Pada intinya, dalam kondisi apapun, SP merupakan kekuatan yang sangat penting dalam era informasi global saat ini, bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pun menggunakan SP sebagai metode untuk mendekatkan dirinya kepada pemerintah sebagai usaha dalam pembuatan kebijakan yang tidak bias kelompok. Benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa SP merupakan suatu kekuatan baru yang digunakan oleh kebanyakan negara saat ini sebagai kekuatan psikologis. SP digunakan sebagai substitusi HP yang sudah dianggap usang karena masih menjustifikasi perang dan penggunaan militer sebagai penarik perhatian. SP dijalankan dengan menggunakan “media” nilai, budaya dan norma sehingga unsur menarik perhatian ke arah kooptasi perdamaian lebih tampak daripada unsur memaksanya.


Written by Adihartono Reksodirdjo, M.Si


[1] Mark Huband, “Egypt Tries to Tempt Back Broadcasters”, dalam Financial Times, edisi 7 Maret, 2000, hal. 14. Akan tetapi, pada pertengahan tahun 1990-an, terjadi pooling penolakan terhadap budaya universal yang disebarkan oleh Amerika. Sebanyak 61 % warga Prancis, 45 % warga Jerman dan 32 % warga Italia menolak budaya Amerika sebagai budaya yang mengancam. Mereka mengeluh banyak tayangan Amerika yang membanjiri televise setempat, lihat Op.cit., Nye, (2002), hal. 71.

[2] Josef Joffe, “America the Inescapable”, dalam Majalah New York Times, edisi 8 Juni, 1997, hal. 38.

[3] Dominique Moisi, “America the Triumphant”, dalam Financial Times, edisi 9 Februari 1998, hal. 12.

[4] Todd Gitlin, “World Leaders : Mickey, et.al.,”, dalam New York Times, edisi 3 Mei 1992, hal. 10.

[1] Mark Huband, “Egypt Tries to Tempt Back Broadcasters”, dalam Financial Times, edisi 7 Maret, 2000, hal. 14. Akan tetapi, pada pertengahan tahun 1990-an, terjadi pooling penolakan terhadap budaya universal yang disebarkan oleh Amerika. Sebanyak 61 % warga Prancis, 45 % warga Jerman dan 32 % warga Italia menolak budaya Amerika sebagai budaya yang mengancam. Mereka mengeluh banyak tayangan Amerika yang membanjiri televise setempat, lihat Op.cit., Nye, (2002), hal. 71.

[2] Josef Joffe, “America the Inescapable”, dalam Majalah New York Times, edisi 8 Juni, 1997, hal. 38.

[3] Dominique Moisi, “America the Triumphant”, dalam Financial Times, edisi 9 Februari 1998, hal. 12.



[1] Op.cit. Nye (2004), hal. 10.

[2] Op.cit., Nye (2002), hal 69.

[3] Ibid.

[4] Mark Huband, “Egypt Tries to Tempt Back Broadcasters”, dalam Financial Times, edisi 7 Maret, 2000, hal. 14. Akan tetapi, pada pertengahan tahun 1990-an, terjadi pooling penolakan terhadap budaya universal yang disebarkan oleh Amerika. Sebanyak 61 % warga Prancis, 45 % warga Jerman dan 32 % warga Italia menolak budaya Amerika sebagai budaya yang mengancam. Mereka mengeluh banyak tayangan Amerika yang membanjiri televise setempat, lihat Op.cit., Nye, (2002), hal. 71.

[5] Josef Joffe, “America the Inescapable”, dalam Majalah New York Times, edisi 8 Juni, 1997, hal. 38.

[6] Dominique Moisi, “America the Triumphant”, dalam Financial Times, edisi 9 Februari 1998, hal. 12.




[1] Mark Haefele, “John F. Kennedy, USIA, and World Public Opinion,”, dalam Diplomatic History, No. 25, Vol. I, (edisi Musim Dingin, 2001), hal. 66.

[2] Frank Brunni, “A Nation That Exports Oil, Herring and Peace”, dalam New York Times, 21 Desember 2002, hal. A3..

[3] Jehangir Pocha, “The Rising Soft Power of India and China”, dalam New Perspectives Quarterly, No. 25, (Musim Dingin 2003), hal. 9

[1] Op.cit., Nye (2004), hal. 5.

[2] Ibid., hal. 6.

[3] Op.cit, Nye (2002), hal. 10.




[1] http://www.nationmaster.com/encyclopedia/Soft-power, diakses pada tanggal 22 September 2005, pada pukul 2.50 am).

[2] Ibid
posted by Khairul Fuadi @ 12:53 AM   0 comments
Sunday, January 28, 2007
sHaF sejajar Kala itu

" tak ingat persis dimana dan kapan ini memulai,,semua seperti telah diatur dengan begitu rapinya,aku dan mereka masuk kesebuah ruangan -masjid kukira,tapi dindingnya polos tak berwarna- tak ingat pula warna apa yang sedang dikenakan oleh mereka,,,akupun tak ingat...
hanya sebuah isyarat,,,aku disuruh menjadi imam,,,lagi-lagi tak ingat pula,sholat apa yang dilakukan kala itu..
takbir dilafadzkan,,alfatehah pun mulai dibaca,,,aku mulai merasa ada sebuah keanehan,,,kucoba untuk melantangkan suraku untuk membaca surat alfatehah itu,,,seperti tak ada daya,suara pun tak terdengar,,,hanya sebuah gumaman,dan komentar kecil dari shaf belakang yang kudengar..
gusar bertambah seiring ku mendengar langkah shaf dibelakang ku bergerak semakin mendekat,,,,,terus mendekat,,,seperti membuat shaf baru,pikirku...sekarang mereka telah berdiri sejajar dikiri dan kanan ku,,,,perasaan takut begitu kuat,,,,hampir saja tak kuselesaikan sholat berjamaah yang kuanggap tak seperti sholat biasa itu,,,,posisi shaf yang berdiri sejajar dan rapat itu seperti posisi sholat mayit!!!.
kuselesaikan tahyiat akhir,dilanjutkan salam,,,tolehan kekanan tak jelas siapa yang berada di sampingku,,tolehan salam kekiri....terlihat jelas walau tak disamping ku persis,,,sebuah tatapan tak asing asing menyeringai tajam kearahku..."

tersentak!!!,,,itulah yang pertama kurasakan,,,,mimpi yang aneh,,,,tak pernah sebuah mimpi membuatku selalu memikirkannya selama hampir dua minggu ini....

"paginya,kuceritakan pada seorang teman,,,,semua terdiam sejenak,,,bergidik dengan sedikit saling berbalas tatapan......."

seperti hari biasa,,,,kuliah,,,tak ada angin yang dapat membuat perasaan itu hilang,,walaupun diselingi banyak kegiatan sekalipun....
siang menjelang sore,,,cuaca yang tak bersahabat kembali memayungi langit jogja,,,sperti biasa sehabis kuliah selalu melewati lobby fisipol,,,,

belum lepas sebuah perasaan yang terus menggelayuti sejak malam itu,,,tiba-tiba sosok wajah yang tersenyum itu melintas,,,seorang yang tak asing,,bagiku...lama tak berjumpa,,,terkejut...memang itu yang kurasakan,,tak kalah juga dengan teman yang kuceritakan pagi itu,,kebetulan kah itu....
sosok yang malam memberi tatapan tajam itu..
pertemuan yang tak diduga...
-berharap itu hanyalah sebuah mimpi- kuceritakan pada sosok itu,,,kucoba membawakan cerita dengan sesantai mungkin...terdiam sejenak dan kembali tersenyum,,,,semoga itu hanya sebuah mimpi kawan...
"besok aku kan pulang ke bengkulu ,,,semoga itu bukan sebuah tanda..sampai ketemu di bengkulu,bukankah kau kan pulang juga liburan ini."balasnya.

hope,hope,
tak pernah terbayangkan untuk mempercayai sebuah bunga tidur,,ntahlah,akhir-akhir ini banyak sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya muncul tiba-tiba.

hope,hope,
itu bukan mimpi yang aneh,,berharap itukan muncul lagi suatu saat,tapi dengan setting yang jelas,sehingga semua bisa terekam sampai ku terjaga nantinya..

hanya sebuah doa pengantar tidur yang kan selalu menjaga kita nantinya...
Bismika Allahumma ahya wabismika wa ammut..amin.
semoga bunga tidur itu datang dengan wangi bunga yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

posted by Khairul Fuadi @ 4:04 AM   0 comments
Friday, December 29, 2006
Renungan Akhir tahun
Ketika Tak Lagi Saling Memahami



Orang Bijak yang mengenakan toga hitam itu tampak duduk elegan di kursi kebesarannya. Tangan kanan memegang palu. Sorot matanya tajam menyapu setiap sudut ruangan dan memperhatikan setiap gerak hadirin.



Sikapnya yang tenang dengan raut yang mahal senyum membuatnya semakin tampak terhormat. Suasana di ruang itu terasa sepi, hadirin hanyut dalam pikiran masing-masing.



Kali ini memang agak berbeda dan unik. Dua tokoh yang menjadi target dan topik pembahasan hadir dengan sukarela. Tuntutan kecil tanpa reaksi yang menjurus destruktif sudah cukup menggugah sang tokoh untuk hadir mempertanggungjawabkan kinerjanya.



Maklum saja, kedua orang tersebut adalah tokoh top olahraga. Karena itu, pengunjung dari kalangan olahraga pun selalu bersikap sportif. Tidak ada lempar batu sembunyi wajah.



Dua tokoh kita yang kejujurannya dituntut dihadirkan bergantian. Tokoh yang lebih tua dengan perangai riang dan akrab tampil lebih awal.



***





“Bung, apa yang telah Anda lakukan?” Orang Bijaksana memecah keheningan.



“Oh, sudah banyak sekali. Saya mengorbankan waktu dan uang. Hampir seluruh hidup saya berikan demi kemajuan olahraga negeri ini,” sahut pria yang duduk persis di depannya.



“Atas nama negeri ini, saya haturkan terima kasih. Sungguh luar biasa seseorang seperti Anda masih sudi menyisihkan waktu.”



” Oh, tidak apa-apa, sebagai warga negara yang baik, itu sudah merupakan kewajiban. Hingga kapan pun, darah dan jiwa saya siap berkorban untuk terus bergelut dalam pembinaan.



Kembali Orang Bijak bertanya: “Bagaimana cara Anda menjalankan pembinaan yang sangat memerah tenaga dan dana itu?”



”Modal pertama saya adalah sikap percaya. Semua orang yang terlibat di dalam pembinaan diberi kebebasan berkreasi dan menekankan tanggung jawab. Saya yakin mereka sudah dewasa dan menyadari tugas masing-masing.”



” Oh, begitu. Apakah mereka diberi target dalam proses pencapaian setiap tahapan, lalu diminta hasil evaluasi untuk jangka waktu tertentu dan teguran bagi yang tidak sesuai prosedur?”



” Ah, Pak Bijak, gini lho, saya ini tidak tega bermain keras. Lihatlah, saya sering sekali datang ke pelatnas untuk menengok atlet berlatih. Saya sapa mereka, saya beri uang saku tambahan dan bercanda untuk menghilangkan rasa jenuh.”



“Jadi tak perlu ada punishment? Yang ada hanya reward?”



“Untuk apa punishment? Mereka sudah terlalu capek untuk dihukum. Kalau bisa, saya hanya setuju dengan reward. Soal hasil akhir dari latihan atlet, kita tidak terlalu mempersoalkannya, yang penting berlatih keras.”



“Bung, apa Anda tidak punya tim pengawas?”



“Tentu saja ada! Mereka adalah orang-orang yang loyal. “Mereka tidak pernah menyusahkan saya. Selalu mengatakan yang baik dan sama seperti saya, tidak tega menyakiti hati atlet dan pelatih.”



”Tapi, buktinya prestasi atlet negeri ini tidak bagus di arena internasional selama kepengurusan Anda.”



”Maaf Pak. Intinya bukan di situ, tapi pada niat dan kerja keras. Semua tinggal soal waktu dan momentum yang tepat. Yang penting saya telah berbuat baik.”



“Setelah gagal belum lama ini melanjutkan kegagalan sebelumnya, apakah masih berniat meneruskan tugas mulia itu?”



”Rencana saya dan tim memang demikian.”



Tiba waktunya bagi Orang Bijak memberi pandangan akhir: “Anda memang baik, tapi saya memutuskan tidak boleh lagi. Biarlah orang lain yang meneruskan tugas meningkatkan prestasi olahraga negeri ini. Tok… tok… tok..!



***





”Silakan duduk”, kata Orang Bijak kepada pria yang tampil penuh percaya diri sebagai seorang Menteri Olahraga. “Apakah saudara telah memberi hasil baik bagi kemajuan prestasi negeri ini?”



“Jelas dong. Lihatlah olahraga kita telah berjalan dengan aman dan tenteram karena sudah dilindungi payung undang-undang. Kalau bukan karena saya, itu tidak mungkin disetujui”.



“Tapi, kenapa prestasi atlet justru mengecewakan walau undang-undang hasil perjuangan Anda itu telah ada?”



“Oh, itu bukan urusan saya lagi. Yang tidak dapat bekerja dengan baik adalah para pengurus olahraga dan tokoh utama di puncak organisasi itu sendiri”.



“Apakah Anda pernah melakukan evaluasi secara mendalam terhadap pembinaan olahraga?”



“Pasti dong! Semua saya evaluasi dengan tegas dan keras. Saya marahi mereka yang tidak bagus melatih. Lihatlah, koran-koran pun tahu betul bagaimana saya marah dan mengejek atlet dan pelatih yang tak becus. Wartawan suka pada saya karena gaya saya yang lugas.”



“Jangankah pelatih, tokoh olahraga nomor satu yang Anda sidangkan tadi pun sering saya sindir dan saya tantang secara terbuka. Lewat koran berkali-kali saya salahkan dia yang tak tunduk dan hormat pada menteri.”



”Apakah Anda sering mengajaknya berdiskusi dengan kepala dingin membicarakan persoalan olahraga sesungguhnya?”



”Pak, saya ini orang penting. Mana boleh tampak lemah di mata rakyat? Kalau mau, mereka dong yang datang dan membuat permohonan kepada saya secara resmi untuk berdialog.”



”Omong-omong, apa kantor Anda memiliki sesuatu rencana besar soal cara membangun olahraga bangsa ini?”



“Karena saya belum lama menjadi menteri, tim kami belum punya agenda besar. Hal-hal teoritis seperti itu tidak penting. Yang utama adalah melatih atlet menjadi juara. Pokoknya prestasi harus tinggi. Begini saudara-saudara: dalam pembinaan olahraga, yang penting adalah jadi juara…. Juara itu adalah…. ”



”Saya pikir cukup. Ternyata Anda lebih suka bicara apa adanya tanpa perlu dipikirkan matang-matang. Apa tidak pernah memikirkan mengikuti tindakan Menteri Olahraga Taiwan, yang mundur karena merasa gagal?”

 

“…?”



catatan ringan by Ian Situmorang
                          ian@bolanews.com 

 
posted by Khairul Fuadi @ 12:16 AM   0 comments

takkan ada batasan,ketika semua [perlu] ruang,.
About Me

Name: Khairul Fuadi
Home: Bengkulu, Sumatra, Indonesia
About Me: dilahirkan di Bengkulu 23thn yang lalu, 13 tahun menghabiskan pendidikan formal TK-SMA di Bengkulu,setelah menamatkan SMA memiliki keinginan untuk melanjutkan ke STPDN, alhamdulillah ga diterima (walau pada saat tes mulai dari awal-akhir tidak pernah terlempar dari 4 besar). sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semester akhir. aktif di organisasi pergerakan kampus dan himpunan mahasiswa jurusan. sekarang diberi amanah sebagai Kabid Sosek Pengurus Cabang AR.FAkhruddin IMM Kota Yogyakarta, pernah mewakili KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional)UMY dan Indonesia pada secretary general CAYC dan mendapatkan ASEAN TAYO (Teen Achomplished Youth Organization) 2007 award di Cebu Filipina.
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Links
My Album

Times

Times

Pengunjung

    Free Web Counter

Powered by

Blogger Templates

BLOGGER